Learning And Get Friendly With Library

Jurnal / RESENSI / Detail

Dari Hati, Anak dan Televisi

ku_bunuh_kau_papa_400

DATA BUKU

Judul              : Kubunuh Kau, Papa! : Curhat Anak Tentang Televisi.

Editor             : Wenny Widajatmi & Anto Ikayadi

Penerbit         : Diterbitkan atas kerja sama Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia  dan C Publishing.

Tahun             : Agustus 2006

Tebal              : ix, 151 halaman

Panjang          : 20 cm

 

 

 

 


Materi Televisi di Indonesia, menjadi pusat perhatian saat ini. Berbagai kejadian akibat dari penayangan siaran dan materi televisi yang tidak sesuai dikonsumsi khususnya oleh anak-anak, diangkat menjadi sebuah tema Lomba Penulisan Esai Remaja 2006 oleh Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia (YKAI) dan United Children’s Fund (UNICEF) yaitu “Televisi yang Aman untuk Anak Menurut Saya. Apa kata mereka tentang televisi? Media informasi berbentuk kotak, dikemas dengan teknologi dan bentuk semakin canggih, menjadi sebuah kebutuhan primer dan dapat dikonsumsi 24 jam, ditambah kesibukan orang tua yang merangkap sebagai pekerja, yang tidak setiap saat mendampingi mereka dalam memilih informasi dengan media televisi.

 

Oleh : Ubudiyah Setiawati

 


Penemu televisi adalah John Logie Baird berkebangsaan Skotlandia, tepatnya Tahun 1922, dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, televisi dan stasiun televisi perkembangannya semakin pesat.  Jenis televisi dari yang hitam putih sampai dengan berwarna, dari yang dulunya bentuk kotak, kini marak dengan bentuk flat, kemudian semakin mudahnya membuat usaha dibidang penyiaran informasi khususnya pertelevisian, yang dulu hanya ada stasiun Televisi Republik Indonesia (TVRI), saat ini sudah ada stasiun televisi swasta seperti RCTI, SCTV,Global TV, TransTV dan lain sebagainya.

 

Kebutuhan informasi diera ini semakin penting, media yang paling menarik berbentuk audiovisual yaitu televisi yang dapat dikonsumsi 24 jam dengan berbagai segmen yang ditawarkan stasiun televisi dari informasi berita, religi hingga hiburan.  Penikmat televisi atau konsumen dari balita hingga para manula, yang menjadi bahasan untuk diangkat adalah konsumen dengan kategori anak-anak. Diusia 1-5 tahun mereka telah diberikan informasi melalui media televisi berupa hiburan film kartun, dengan kebiasaan tersebut pada usia selanjutnya mereka dengan sendirinya terbiasa dengan media televisi, mengetahui atau hapal dengan siaran-siaran yang disukainya, memperhatikan bagaimana mengoperasikan atau menyalakan pesawat televisi dengan kemudahan remote control, mereka dapat memilih siaran televisi dan menjadi sebuah permasalahan adalah jika anak-anak dibiarkan mengendalikan atau memilih siaran televisi sendiri tanpa bimbingan orang tua, tanpa memberikan pengertian dan aturan dengan penggunaan media tersebut, disaat usia masih belum mengetahui mana yang baik dan buruk, masih dalam tahap pembelajaran dari lingkungan dengan cara meniru, disaat memory mereka masih bagus untuk merekam semua yang mereka lihat dan kerjakan.

 

Hal tersebut dapat disimak dalam buku “Kubunuh Kau, Papah!” adalah salah satu judul pemenang Lomba Penulisan Esai Remaja 2006, yang merupakan lomba penulisan yang ketiga kalinya diselenggarakan YKAI dan UNICEF dengan jumlah karya 2.100 naskah dengan peserta dari hampir seluruh propinsi di Indonesia dengan usia setingkat SLTP/SLTA dan 8 (delapan) anak yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Dibukukan oleh editor Wenny Widajatmi dan Anto Ikayadi agar dapat dibaca lebih pas namun tidak merubah orisinal tulisan sebagaimana penuturan seorang anak khususnya peserta SLTP yang lebih cair, apa adanya dibandingkan peserta SLTA. Namun mereka telah dapat berfikir kritis, seakan-akan berkomunikasi langsung dengan pihak stasiun televisi, produser acara, orangtua, dan pengambil kebijakan atau pemerintah yang menjadi target sasaran pembaca buku ini, dengan harapan suara mereka didengar oleh pihak-pihak terkait, dan tidak hanya didengar namun direalisasikan.

 

Menarik sekali disimak, bagaimana mereka bertutur dalam gaya penulisan seusia mereka yang mengkritisi apa yang tidak baik dan apa yang baik berkaitan dengan televisi menurut versi mereka. Sebagian dari mereka mengemukakan bahwa sinetron-sinetron yang saat ini merajai televisi sangat tidak mendidik, misalnya banyak sinetron yang merendahkan perempuan (karena selalu memperebutkan laki-laki), memutarbalikan logika (orang baik selalu menderita, orang jahat selalu bahagia), sarat kekerasan, dan cenderung lari dari masalah.  Dan protes mereka ketidaksesuaian penggambaran anak-anak sekolah dalam sinetron yang jauh dari kenyataan seperti berpakaian seragam tidak rapi, mengenakan aksesoris berlebihan, atau mengenakan rok pendek dan make up ke sekolah.  Selain itu mereka menilai acara-acara yang bermanfaat seperti Jejak Petualang, Petualangan Liar, dan Jelajah, Dunia Satwa, Sinetron Keluarga Cemara.

 

Dalam buku setebal 151 halaman ini, terdiri dari 20 judul, dengan 2 (dua) judul yang menjadi pemenang dari tingkat SLTP dan SLTA, Yaitu :

1.           Sudah Cukup Baikkah Siaran Televisi Kita?. Oleh : Annisa Natahnia dari Sekolah Internasioan Dar Es Salaam Independent School, Tanzania. Pelajar SLTA.

2.           Selamat Pagi, Pemirsa. Oleh : Debby dari SMA Santa Ursula Jakarta.

3.           Tontonan Televisi Itu Kayak Sepeda. Oleh : Dian Bastiar dari SMPN 41 Ragunan Jakarta.

4.           Kubunuh Kau, Papa. Oleh  : Grace Christina dari SMPN II Mataram, NTB. (Penghargaan UNICEF untuk Penulis Muda Indonesia  tingkat SLTP).

5.           Salah Siapa?. Oleh : Jaccqueline Bahar dari SMP Ketapang II Jakarta Barat.

6.           Pandangan Seorang Anak. Oleh : Janita dari SMP Negeri 19 (bilingual).

7.           Anak dan Televisi. Oleh : Kumara Damarlantu dari SMP Negeri 1 Grabag, Magelang.

8.           Matikan TV-Mu!. Oleh : Luthfi Andi Z dari MA TMI Putra Al-Amien Prenduan Sumenep, Madura.

9.           Dunia Penuh Warna di Layar Kaca. Oleh : Maria Chitra Astriana Hadiwidjana dari SMA Santa Maria Surabaya

10.       Moral Anak Indonesia, Moral Bangsa Indonesia. Oleh : Meiliana dari SMA 1 Muntok, Bangka Barat.

11.       Ksatria Baja Hitam dan Pengikisan Potensi Muda. Oleh : Monica Rarang Kusologupito dari SMA Santa Ursula BSD, Tangerang.

12.       Dilema Sebuah Layar Kaca. Oleh : Nabila Ghina Naufalita dari SMP Negeri 3 Pati.

13.       Marah di Sana Murka di Sini, Sedu di Sana Sedan di Sini….Oleh : Raisa Aurora dari SMPN 12 Bekasi.

14.       Sinetron di Indonesia. Oleh : Reggievia Santoso dari SMP Kristen Ketapang II Jakarta Barat.

15.       Sinetron Indonesia, “Jangan Bikin Orang Baik Menderita Terus Sampai Mampus”. Oleh : Riani Charlina dari SMP Santa Maria Bangka Barat.

16.       Televisi Dalam Ingatan (TV In Memory). Oleh : Salsabila Sakinah dari SMP Islam At-Tashfiyyah Bekasi.

17.       Tontonan Aman Karya Anak Bangsa. Oleh : Tabita Diela dari SMU Santa Ursula Jakarta.

18.       Pesona itu Bernama Televisi. Oleh : Ubet Zubaidi dari SMA Negeri Doro Pekalongan, Jateng.

19.       Membangun Moral Melalui Televisi. Oleh : Vera Lukman dari SMA Santa Ursula Jakarta.

20.       Dicari : Wajah Ramah Televisi Indonesia. Oleh : Yuanita Utami dari SMU Negeri 1 Cilegon.

 

Kubunuh Kau, Papa yang ditulis oleh Grace Christina sebagai pemenang tingkat SLTP, menuturkan pengalaman dia disaat umur 2 (dua) Tahun, dikutip sebagai berikut : Saat itu aku sedang bermain balok susun. Sedang asyik-asyiknya aku menyusun balok-balok tersebut sampai tinggi, papa datang dan menggangguku. Papa menjatuhkan balok-balok yang telah ku susun. Berulang kali aku menyusunnya kembali, berualng kali pula Papa menjatuhkannya. Denga muka merah padam, aku langsung memegang kerah baju Papa dan berkata, “Papa nakal. Kubunuh kau, Papa!”.

Adalah sebuah cerita dan gaya orisinal anak-anak yang dialami sekaligus terlihat jelas dampak dari apa yang dia lihat lewat layar kaca, menonton tanpa bimbingan orang tua, yang akhirnya membawa hikmah bagi orang tuanya untuk lebih memperhatikan anaknya terutama mendapatkan informasi dari televisi.

 

Dicari : Wajah Ramah Televisi Indonesia, Oleh Yuanita Utami, pemenang dari tingkat SLTA,  menelaah kejadian yang dialami oleh kakak dan adik yaitu Reno dan Aji, yang sedang bermain dan tiba-tiba melakukan suatu bentuk permainan perkelahian, yang menyebabkan mereka saling dendam untuk membalas pukulan yang diakhiri tangisan sang kakak yang dipukul dengan mainan robot milik Aji, akibat Aji dendam terhadap pukulan balasan dari Reno yang postur tubuh dan kekuatannya melampaui Aji. Menggambarkan hal tersebut pengaruh dari serial Power Ranger yang ditonton oleh mereka.

Yuanita membandingkan keadaan jaman sekarang dengan masa dia kecil dimana televisi masih sesuai dengan visi misi awal pertelevisian. Kemudian harapan Yuanita mencari keramahan televisi Indonesia dituangkan dalam puisi sebagai berikut :

Jika mereka adalah anak-anak,

Bercelotehlah sebagaiaman anak-anak berceloteh,

Jika mereka adalah anak-anak,

Tertawalah selepas tawa anak-anak,

Jika mereka adalah anak-anak,

Bersikaplah sebagaimana anak-anak bersikap.

Tanpa ada pengopian moral yang salah dari acara yang telah mereka saksikan.

 

Dari buku tersebut meskipun, tidak secara langsung mereka menyampaikan bagaimanakah acara yang tepat buat mereka, namun dari tulisan curahan mereka dapat dimaknai bahwa mereka tetap ingin masa anak-anak adalah untuk masa anak-anak dengan dukungan lingkungan terutama informasi dan hiburan yang memang diperuntukkan untuk anak-anak.

Sebagai bentuk jawaban curahan hati mereka terhadap pertelevisian, saat ini telah ada televisi yang khusus menyiarkan acara untuk anak-anak, serta pemantapan Undang-Undang Penyiaran, dengan dukungan dari orang tua dan lingkungan untuk bijak dan mengarahkan kemana informasi yang tepat yang dapat diperoleh dari media televisi.

Curahan hati dalam buku ini, menjadi salah satu wacana mengetahui bagaimana berfikir kristis terhadap lingkungannya dan mengetahui apa yang mereka rasakan, harapan terhadap masa depan mereka.  Dan melengkapi literatur buku sebelumnya yang diterbitkan oleh Mizan Dar, Dengar Apa Kata Mereka .(Setia)

 

Informasi Pendukung
Ringkasan :
Pengirim :
User perpus
Perpustakaan Unikom
Email dyah@unikom.ac.id
Homepage Homepage
File Pendukung:
Mohon Login terlebih dahulu!
Tidak ada Attachment
Lokasi :
Pengarang :Wenny Widajatmi & Anto Ikayadi > Cari di Google
Sumber :Diterbitkan atas kerja sama Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia dan C Publishing.
Jadwal :
XHTML™ CSS-2